Marc Overmars Sindir Gaya Bermain Manchester United

Legenda Ajax tersebut menilai bahwa tim arahan jose mourinho terlihat begitu takut mengambil resiko untuk bermain menyerang, dan akhirnya bertahan sepanjang laga. Menurut Overmars, filosofi tersebut sangat bertentangan dengan filosofi yang dimainkan oleh Ajax.

Marc Overmars Sindir Gaya Bermain Manchester United

Manchester United memang berhasil menggondol pulang trofi liga Europa musim ini setelah mengalahkan wakil Eredivisie, Ajax Amsterdam. Namun, performa tim arahan Jose Mourinho dalam pertandingan tersebut menuai kritik dari salah seorang legenda Ajax, Marc Overmars.

Sebagaimana diketahui, partai final Liga Europa musim ini mempertemukan Manchester united dan Ajax Amsterdam, dimana partai tersebut sendiri berlangsung di Friends Arena, Solda, Stockholm, Swedia, pada Kamis dinihari WIB, 25 mei 2017. Sejak menit pertamma, Ajax Amsterdam mendominasi pertandingan dengan filosofi menyerang, sedangkan Manchester United lebih cenderung bertahan.

Justru, Setan merah yang berhasil mencetak gol dalam pertandingan tersebut dengan Paul Pogba yang lebih dulu membuka keunggulan di menit ke-18, sebelum akhirnya Henrikh Mkhitaryan memastikan gelar juara jatuh ke dekapan United melalui golnya pada babak kedua. Selepas pertandingan, Ajax Amsterdam yang mungkin merasa kecewa dengan hasil akhir, melayangkan sindiran sekaligus kritik terhadap gaya bermain tim arahan Jose Mourinho, melalui salah satu legenda mereka, Marc Overmars.

“Gaya bermain kami adalah berani mengambil risiko dalam menyerang dan kami selalu berusaha menguasai jalannya permainan,”

“Namun kebanyakan tim akan menunggu dan berpikir mereka akan lihat apa yang nanti bakal terjadi. Kami tahu kebanyakan pelatih berpikir mereka pertama harus menutup ruang dulu di lini belakang, untuk menghindari kemasukan gol, sebelum bisa bermain lebih ofensif. Apakah Mourinho bersama Manchester United melakukan pendekatan seperti itu? Tentu saja,” buka Overmars, seperti dikutip Telegraph.

Ross Barkley Cocok Main di Manchester United

Pendapat itu datang dari salah seorang mantan pemain andalan The Toffees, Leon Osman yang melihat bahwa tim seperti Manchester United membutuhkan sosok pemain berkualitas dengan kemampuan apik dalam diri Ross Barkley. Namun, dia tidak tahu apakah Barkley mampu menembus tim utama Setan Merah.

Ross Barkley Cocok Main di Manchester United

Ross Barkley disebut-sebut tengah berada di ambang pintu keluar Goodison Park Setelah menolak tawaran perpanjangan kontrak dari pihak Everton beberapa waktu lalu. Terkait hal tersebut, gelandang timnas Inggris ini disarankan menimbang tawaran yang ada di musim panas nanti, terutama jika datangnya dari Manchester United, karena dia dirasa akan cocok bermain di klub tersebut.

Sebagai informasi, gelandang serang berusia 27 tahun itu merupakan salah seorang produk akademi Everton yang kemudian menjadi bagian dari tim utama The Toffees sejak 2010. Dia mulai diandalkan Everton sejak 2013, dan sejak kemunculannya tersebut, sudah banyak tim yang berminat terhadap sang pemain. Namun, Barkley sendiri memutuskan untuk tetap bertahan di Goodison Park.

Saat ini, Barkley menyisakan dua tahun dalam kontraknya bersama dengan Everton, dan belum lama pihak klub mengkonfirmasi bahwa gelandang tim nasional Inggris tersebut tidak menyepakati kontrak anyar yang mereka berikan. tentu saja, ini adalah indikasi tegas bahwa Barkley memang ingin mencoba peruntungan baru bersama klub lain.

Jika memang demikian, bekas gelandang Everton, Leon Osman, menyarankan kepada barkley untuk merapat ke Old Trafford, karna dia dinilai akan cocok bermain bagi tim arahan Jose Mourinho tersebut.

“Dia adalah salah satu pemain top di Liga Primer, Dia mendapati musim yang cukup bagus bersama Everton, mencetak sejumlah gol hebat dan menunjukkan kemampuannya. Jika sebuah tim merasa dia bisa menambahkan kualitas, mereka pasti akan merekrutnya. Sejauh ini dia dirumorkan ke Tottenham. Mereka punya tim fantastis, namun apakah dia bisa masuk ke dalam starting XI? Saya tidak tahu.”

“Saya pikir tim seperti Man United mungkin membutuhkannya. Jose Mourinho suka pemain yang memiliki kecapakan fisik, dia suka jika timnya begitu powerful dan berbadan besar, dan Ross Barkley jelas sangat cocok.” ujarnya kepada talkSPORT.

Sunderland Terdegradasi, David Moyes Mengundurkan Diri

Pemilik klub, Ellis Short yang sempat bertemu dan berbicara dengan eks pelatih Everton itu mengaku sudah membujuk Moyes agar bertahan di Stadium of Light dan membantu klub kembali bermain di Premier League, namun Moyes menolaknya.

Sunderland Terdegradasi, David Moyes Mengundurkan Diri

Sunderland dan David Moyes akhirnya resmi berpisah setelah keduanya sepakat untuk mengakhiri kerja sama, terhitung sejak selasa, 22 Juni 2017. Tentu saja, keputusan yang diambil sang manajer asal Skotlandia ini tak terlepas dari fakta bahwa The Black Cats tersingkir alias terdegradasi dari ajang Liga Primer Inggris musim ini.

Sebagaimana diketahui, Moyes memang datang dan menangani tim utama Sunderland sejak pertengahan musim, menggantikan Sam Allardyce yang memilih untuk mundur karena akan menangani timnas Inggris. Sayangnya, Moyes yang sebelumnya sempat menangani Real Sociedad dan Manchester United tidak bisa membantu klub tersebut keluar dari Zona Degdradasi. Sunderland sndiri akhirnya tersingkir dari ajang Premier League sebagai tim terbawah di klasemen akhir.

Keputusan akhir ini sebenarnya sedikit mengejutkan, pasalnya Moyes sendiri sempat berujar bahwa dia akan bertahan di Sunderland, kendati klub akhirnya harus terdegradasi. Tak heran, pemilik klub Ellis Short merasa sedikit kecewa dengan keputusan Moyes, karena dia juga sempat membujuk juru taktik asal Skotlandia itu.

“Saya membujuk David Moyes untuk bertugas selama beberapa waktu ketika penunjukannya pada musim panas lalu. Oleh karena itu, pengumumannya ini cukup menyulitkan semua orang di klub,”

“Setelah bekerja keras di sepanjang musim ini untuk menghindari degradasi, David memutuskan untuk pergi tanpa kompensasi apa pun. Ini menunjukkan karakter besarnya. Untuk beberapa waktu ke depan, kami akan mengevaluasi diri, fokus di bursa transfer, menjalani pramusim, dan bersiap menghadapi Championship. Kami mendoakan yang terbaik untuk David,” kata Short dalam pernyataan resminya.

Adapun, sosok yang pernah menukangi Everton dan Manchester United tersebut tidak menjelaskan secara jelas alasannya memilih mundur dari kursi pelatih Sunderland, dia hanya mengucapkan terimakasih atas dukungan semua pihak selama ini.

Stephan el Shaarawy Berharap Dipanggil Timnas Italia

Mantan winger AC Milan tersebut mengaku berada dalam kondisi terbaik baik itu secara fisik maupun psikologis, jadi dirinya berharap momen spesial ini dilengkapi dengan panggilan dari Nazionale, karna hal tersebut menurutnya sangatlah penting.

Stephan el Shaarawy Berharap Dipanggil Timnas Italia

Bermain bagi tim Nasional adalah impian bagi setiap pemain, tak terkecuali para pemain bintang sekalipun yang tampil mentereng di Eropa. Terlebih, pada musim panas ini, banyak negara yang akan melanjutkan kiprah mereka di babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Nah terkait hal ini, winger AS Roma, Stephan El Shaarawy berharap bisa dipanggil kembali untuk membela timnas Italia di kancah Internasional.

Sebagaimana diketahui, El Shaarawy sempat membela tim Nasional Italia di tahun 2014 lalu, namun karena performanya yang dinilai menurun, dia tak disertakan dalam ajang Piala Eropa 2016 lalu, dan juga tidak menjadi bagian dari skua gli Azzurri pada babak kualifikasi Piala dunia 2018 di awal musim ini.

Sedangkan, sang pemain menjalani kampanye musim 2016/17 dengan cukup baik sebagai pemain pinjaman di AS Roma. Dia bahkan mengemas dua gol dalam partai terbaru yang dimainkan Gialorossi melawan Chievo Verona. Selepas pertandingan yang berlangsung akhir pekan kemarin tersebut, Shaarawy kemudian mengaku begitu senang, dan berharap performanya bisa membuahkan panggilan dari Tim Nasional Italia.

Pemain pinjaman dari AC Milan itu merasa dalam kondisi fit, baik secara fisik maupun psikologis.

“Chievo mengawali laga dengan agresif dan tangguh. Kami tahu ini akan jadi pertandingan yang sulit. Mereka menekan kami dan memaksimalkan peluang mereka, seperti saat gol kedua, ketika kami tak terlalu berkonsentrasi pada umpan silang,”

“Terlepas dari itu, kami mampu membalas dua kali dan secara bertahap memutar balik situasi. Sekarang kami harus fokus pada Genoa dan mempertahankan posisi kedua.”

“Saya merasa sangat sehat secara psikologis, bukan hanya sebagai pemain. Jadi ini adalah momen yang spesial bagi saya. Saya harap ini berujung dan membawa saya pada Nazionale, karena saya sangat peduli dengan hal itu,” ungkapnya pada Sky Sport Italia.